Wednesday, March 14, 2007
posted by Syah at 11:39 PM

Maaf, lagi-lagi saya terlambat untuk meng-update blog ini. Begitu sedikit waktu dan begitu banyak yang harus dikerjakan.
Baiklah, saya akan menceritakan sedikit sekali tentang resepsi pernikahan Nia Bule.
Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa resepsi ini harus dilaksanakan di Cilacap ? Kenapa tidak di Jakarta ? juga tidak di Dumai ? atau malah di Yogya ?
Sederhana saja. Pertama, karena orangtua Nia sudah lebih dari duapuluh tahun hidup di Cilacap. Kedua, Nia pun lebih menyukai kota Cilacap ini daripada kota manapun yang pernah ditinggalinya. Dan lebih banyak memberikan kenangan katanya.
Sebelum berangkat ke acara resepsi, saya sempat diledek oleh Ayah saya. “Kamu dateng ke nikahannya Nia, apa kamu bisa rela ? Kamu pernah suka sama Nia kan dulu ?”
Aku yang diledek begitu, cuma bisa cengengesan “Pah, untuk cinta yang ngga bertepuk tangan, cinta yang ngga pernah bisa dimiliki sama sekali, kenapa harus ngga rela ? Mungkin kalo aku kayak Okan Kornelius, Teuku Zacky, atau Sammy “Kerispatih”, mungkin ngga akan pernah bisa rela.” Ayah saya langsung ketawa dengan sarkasnya waktu itu. Dan saya lagi-lagi cuma mesam-mesem.
Ini ada beberapa foto yang bisa dinikmati. Maaf kalau fotonya sedikit sekali. Karena waktu itu tangan kiri saya sibuk memegangi piring, sementara tangan kanan saya tak henti-hentinya terus menyuapi mulut saya yang selalu ingin mengecap.















Addendum :



Akhirnya buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita-nya Gus Dur, bisa terbeli juga. Berbulan-bulan saya mengidamkan buku ini.

 
2 Comments:


At Thursday, March 15, 2007 3:57:00 PM, Blogger ihsan

bwt nia : barakallahu laka wa baraka alaika jama'a bainakuma fi khair..

bwt yopi : wah, ko bacaannya buku gituan sih? maaf ya... mnrt aq buku2 kyk gitu isinya cm pemikiran sampah aja.... gak ada manfaatnya...
aq pernah ikut bedah bukunya di kampus, dan org seperti gus dur-lah yg ngerusak Islam, pemikiran2 Islam dan ummat ini. Semoga 4JJI memberikan hidayah bwt bliau, amin.

 

At Thursday, March 15, 2007 11:26:00 PM, Blogger Syah

@ihsan : pemikiran sampah? ok... saya bisa memahami jalan pikiran anda. tapi bukankah sampah terkadang bisa bermanfaat buat kita? tergantung bagaimana kita menyikapi sampah itu sendiri? :-)
gak ada manfaatnya? wah... padahal saya banyak belajar untuk tidak picik dan toleran terhadap pemeluk agama lain justru dari buku ini. :-)